Deteksi Potensi Anak Melalui Rapor Sekolah

Hal berikut ini mungkin memiliki sudut pandang yang berbeda. Namun jika perspektifnya sama, alhamdulillah. Yang utama semoga bermanfaat untuk kita semua. Raport adalah Progress hasil Pembelajaran, laporan perkembangan anak selama satu semester dalam menempuh seperangkat materi pelajaran dan yang penting bukan hasil akhir. Oleh karenanya, saat menerima raport lakukan hal - hal berikut :
  1. Tutup raport terlebih dahulu, tanyakan kepada anak Pelajaran apa yang ia sukai dan siapakah guru yang ia sukai. Ini akan berpengaruh terhadap nilai di dalam raport. Belajar adalah hasil kerja mental emosional yang kemudian mengarahkan kemampuan kognitif nya (IQ) untuk meresponnya untuk memperoleh nilai - nilai belajar.
  2. Buka raport,  Fokus kepada nilai tertinggi yang ada di raport. Coba cek adakah signifikansi dengan pelajaran yang diminati anak dan guru nya yang dia sukai. Sekali lagi, fokus lah kepada nilai tertinggi karena disitulah kelebihan anak serta berikan senyuman dan ucapan dengan kalimat yang berisi pujian,  apresiasi dan penghargaan dengan tulus kepada anak atas prestasinya.
  3. Perhatikan nilai nilai yang tertinggi dan nilai - nilai pelajaran yang rendah. Perhatikan pembagian secara sederhana untuk memudahkan memetakan otak kanan dan otak kiri, kelompok pelajaran otak kiri (matematika, IPA/sains, fisika, kimia, biologi, dan lain - lain), Kelompok pelajaran otak Kanan ( bahasa, seni dan IPS ). Jika anak dominan nya di otak kiri maka arahkan nantinya ke jurusan yang sesuai dengan bidang otak kiri. Demikian sebaliknya, jika anak dominan di otak kanan maka arahkan nantinya ke jurusan yang sesuai dengan bidang otak kanan nya, hal ini dilakukan karena Raport juga bermanfaat untuk mendeteksi tingkat kecerdasan sekaligus  penjurusan buat anak nantinya. Jangan pernah memaksakan anak yang dominan di pelajaran otak kanan untuk masuk ke jurusan yang dominan di otak kiri. Selain kasihan kepada anak, karena menjadi beban serta tingkat kecerdasan anak memang bukan disitu, akhirnya  hasil prestasinya menjadi kurang  maksimal.
  4. Tanyakan kepada anak nilai pelajaran apa yang rendah, kenapa bisa terjadi  dan bagaimana solusi untuk selanjutnya. Ini sekaligus berguna bagi penguatan fondasi jiwa dan mental anak dan melatih anak agar ia menerima dirinya sendiri apa adanya. Memaafkan diri dan ikhlas atas kekurangan kita sebagai hamba yang maha kuasa yang lemah/kurang, sehingga dapat memotivasi diri untuk memperbaiki dan latihlah anak untuk bisa belajar menerima diri  apa adanya.
  5. Jangan sekali kali membanding - bandingkan anak dengan anak lain. Hal ini karena anak itu adalah unik, berbeda - beda dan hanya satu di dunia tidak ada duanya. Sang pencipta sudah memberi Fitrah yang terbaik, baik itu bakat, minat, kecerdasan, modalitas belajar dan potensi yang khas di setiap anak. Jadi,  jangan dibanding - bandingkan, Karena putra atau putri bapa/ibu tidak ada bandingan nya.
Hal yang perlu diperhatikan :

1. Berhentilah memamerkan - mamerkan ranking anak, karena yang terpenting dari pendidikan itu bukan ranking. Hakekat dari pendidikan itu adalah agar menjadikan anak :
  • mencintai aktivitas membaca untuk mencari pengetahuan
  • bisa berpikir logis
  • tau dengan nilai - nilai kebenaran dan yang salah
  • mampu mengembangkan bakatnya, serta
  • punya semangat juang untuk mewujudkan apa yang ia inginkan secara disiplin dan konsisten.
2. Berhentilah menjadikan ranking anak sebagai kunci dari keberhasilan. Ketika kita menjadikan ranking sebagai bukti keberhasilan pada anak dampak terbesarnya adalah pada titik itulah kita terfokus kenyataan nya tidak.


EmoticonEmoticon