Jangan Salahkan Anak bila Dewasa Belum pada Waktunya


Tak acuh, tak peduli, cuek, dan hanya sibuk dengan urusan sendiri. Itulah gambaran kehidupan kita sekarang. Banyak hal yang menjadikan kita tak lagi peka terhadap lingkungan. Dengan ketidakpekaan itu, banyak hal negatif yang terjadi di lingkungan sekitar, teman bahkan keluarga kita. 

Penyebab hal negatif yang terjadi pada masa sekarang bukan hanya akibat dari globalisasi dan westernisasi, tetapi lebih kepada perhatian dan pengawasan. Anak-anak dan remaja yang menjadi korban dari semua ini dibiarkan saja oleh para orangtua dan orang dewasa. Orangtua yang bekerja hingga larut malam, sehingga ketika di rumah bertemu dengan anak hanyalah pada waktu anak sudah tidur. Tidak sempat bertanya “nak, bagaimana pelajaran hari ini?” atau pertanyaan lebih sederhana “nak, apakah sudah makan?’ Ini realita yang tidak dapat dipungkiri. Banyak orangtua yang sekarang hanya fokus mencari materi dan mengabaikan perkembangan anak mereka. 

Para orangtua sekarang ‘mencekoki’ anak dengan berbagai kesenangan. Jangan heran, jika anak-anak SD sekarang di tangan mereka sudah tergenggam tablet, Ipad, PSP yang mudah dibawa-bawa. Bermain games hingga lupa waktu. Bahkan anak-anak sekarang sudah bisa BBM-an. Maka, jangan salahkan jika permainan-permainan tradisional yang kita mainkan dulu sudah hilang di zaman sekarang. Main kelereng, petak umpet, cabur dan permainan masa kecil era 90-an lainnya. 

Padahal, permainan-permainan tradisional itu juga menuntut anak untuk berkreatifitas dan berpikir. Bukan hanya pada permainan PS kreatifitas anak tercipta. Juga, jangan salahkan jika anak sekarang lebih suka internetan daripada membaca buku. Prestasi menurun karena hanya mengakses jejaring sosial. Bukankah, kita sebagai orangtua yang membuat anak ‘dewasa’ belum pada waktunya? Orangtua lah yang memfasilitasi semua itu. Zaman boleh berubah, tetapi pengawasan dan perhatian jangan sampai punah. 

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon