Menikmati Eksotiknya Pantai Tiang Bendera Sambil Mengenang Sejarah



“Masyaallah, Subhanallah,” lantunan kalimat pujian kepada sang pencipta tak sadar spontan kami gumamkan saat memasuki pantai eksotis ini. Bagaimana tidak, siapapun yang melihat pesona pantai yang satu ini pasti berekspresi sama dengan kami. Tak hentinya mengagumi pesona lukisan Tuhan yang satu ini. Ya, tulisan kali ini saya akan membahas tentang keeksotisan Pulau Rote yang mungkin tak banyak diketahui, karena pantai ini memang masih sangat alami, jauh dari tangan nakal manusia yang ingin mencemari pantai ini.

Adalah pantai tiang bendera, sekitar 5 km dari pusat kota Baa yang terletak di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Air lautnya yang bening kebiru-biruan menggambarkan bahwa pantai ini masih belum tercemari oleh limbah apapun. Batu karang yang banyak dijumpai di pantai ini seolah mengatakan banyak biota laut yang masih “bebas” hidup di sini tanpa cemasnya mereka oleh tangan-tangan jahil manusia. Deburan ombak yang tenang, membuat siapapun, termasuk saya betah berlama-lama di pantai eksotik ini. Pantai ini memiliki karang yang tinggi yang menjorok ke tengah laut, membuat siapapun ‘lupa diri’ karena asik berswafoto. Sambil bersantai di atas karang, diri ini dimanjakan oleh sepoian angin yang menyapa dan ditambah dengan berfantasi percikan air deburan ombak pantai ini. Jika kalian ingin mengunjungi pantai ini, sebaiknya beramai-ramai, karena keindahan ciptaan Tuhan akan sangat asik kita nikmati dengan teman-teman terdekat kita.

Dibalik nama Pantai Tiang Bendera ada peristiwa sejarah yang tidak boleh kita lupakan. Pemberian nama Pantai Tiang Bendera dilatarbelakangi oleh peristiwa heroik perjuangan rakyat Rote melawan penjajah Belanda. Di atas bebatuan Karang yang berada di tengah laut, terdapat sebuah tugu beton yang sengaja dibangun Belanda sebagai penanda wilayah jajahannya. Jika air sedang surut, pengunjung bias menaiki karang untuk mencapai tugu tiang bendera yang didirikan oleh Belanda tersebut, namun harus berhati-hati karena karang yang sangat tajam. Saya mendapatkan informasi ini dari sopir mikrolet yang kami sewa, hehehe.

Pantai tiang bendera juga salah satu tempat terbaik untuk menikmati sunset. Di pesisir pantai juga banyak tersedia lopo (pondok) untuk sekedar duduk ataupun menikmati bekal yang sudah disiapkan. Disarankan yang ingin mengunjungi pantai ini untuk membawa bekal karena di sini tidak ada yang berjualan. Untuk menuju Pantai Tiang bendera membutuhkan jarak tempuh 5 km saja dari pusat kota (Baa). Untuk wisatawan yang ingin mengunjungi pantai ini bisa menyewa ojek atau mikrolet yang tersedia di kota Baa.


Saya sangat bersyukur bisa menikmati sisi lain keindahan alam-alam NTT. Menurut saya, NTT adalah surganya wisata. Untuk menuju Rote, saya dan teman-teman berangkat dari Kupang menuju Pelabuhan Bolok. Dengan biaya Rp 65.000 per orang kami menyeberang dengan menggunakan jasa kapal feri pada pukul 08.00 WITA.  Memakan waktu penyeberangan kurang lebih 3 jam kami tiba di Pelabuhan Pantai Baru pukul 11.00 WITA. Dari Pelabuhan Pantai Baru, menuju pusat kota Baa meembutuhkan waktu 45 menit. Kami memutuskan untuk menyewa mobil pick up yang tersedia di sekitar pelabuhan. Selain pick up, di sekitar pelabuhan juga banyak mikrolet dan ojek yang menuju kota Baa. Jadi, pengunjung Pulau Rote tidak usah khawatir dengan transportasi menuju Baa.  Dengan biaya Rp 20.000 per orang kami menuju kota Baa. Selain menggunakan kapal feri, untuk menuju Pulau Rote juga bisa juga menggunakan jasa penerbangan yang tentunya biaya yang lebih mahal daripada menggunakan kapal feri, hehehe. Jadi, siapa yang tak tertarik berwisata sambil mengenang sejarah. 😊


EmoticonEmoticon