Siang itu, pada saat jam kuliah sedang berlangsung, setelah menerangkan mata kuliah, sang dosen bertanya kepada mahasiswa, “ Jadi apa perbedaan antara mata kuliah yang sudah anda pelajari semester lalu dengan mata kuliah ini?” tanya beliau. Kebetulan pelajaran yang ditanyakan beliau sudah dipelajari dua semester yang lewat. Mata kuliah yang diajarkan beliau semester ini adalah mata kuliah yang berhubungan dengan semester yang lalu. Sesaat setelah dosen bertanya, kelas hening seketika. Tidak ada satupun mahasiswa yang bisa menjawab pertanyaan sang dosen, termasuk saya. Pertanyaan yang diajukan beliau hendaknya bisa terjawab. Namun, ternyata jauh dari perkiraan dan harapan beliau.
Beberapa saat lamanya, beliau menunggu jawaban, tetapi tidak ada satupun mahasiswa yang bisa menjawabnya. Hingga beliau mengeluarkan kata sentilan yang mampu membuat saya dan teman-teman mahasiswa lainnya tersentak dari keterlenaan menikmati penyesalan yang datang terlambat. Sang dosen mengatakan, “Kita kuliah jangan gunakan prinsip badai pasti berlalu” ujar beliau. Artinya, selesai semester lama, sambut semester baru, buku-buku referensi disimpan begitu saja di dalam kardus. Ilmu yang didapatkan di semester sebelumnya dilupakan begitu saja seakan tidak butuh lagi.
Pada hakikatnya, ilmu yang kita serap dan kita dapatkan tidak ada yang sia-sia serta tidak boleh kita lupakan begitu saja. Seharusnya kita mengulang-ulang kaji lama, agar kita mantap mendapatkan kaji yang baru, karena dasar-dasar ilmunya sudah duduk di otak kita. Merugilah kita apabila sudah mempelajari suatu ilmu, tetapi kita tidak pernah menyimpannya di dalam otak maupun memanfaatkannya, atau tidak menelaah dan mengulang yang telah kita pelajari lebih lanjut. Maka dari itu, sebagai mahasiswa, mari kita hapuskan prinsip badai pasti berlalu. Badai tidak boleh berlalu, pelajaran di masa lalu hendaknya menjadi pegangan kita di masa depan.
EmoticonEmoticon