Aib di Media Sosial

Sesungguhnya Tuhan menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini tidak ada yang sia-sia. Manusia memiliki kelebihan yang tidak dapat dibandingkan dengan makhluk Tuhan ciptaan lain. Manusia diberi sesuatu yang luar biasa oleh Tuhan, yaitu akal. Di tangan manusialah nasib jagad raya ini. Apakah manusia akan menjaganya atau justru merusak. Apakah manusia akan selalu bersyukur atau malah kufur nikmat. Lihatlah ke sekeliling kita, apalagi yang tidak patut kita syukuri? Sedang nikmat-Nya berlimpah-limpah kita nikmati. Jika kita berbicara hitung menghitung, tidak akan mampu kita menghitung apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Semua nikmat yang kita peroleh telah diatur-Nya. Semua tergantung usaha kita masing-masing untuk memperoleh yang akan ditakdirkan kepada kita.

Semua yang diberikan Tuhan adalah titipan. Bagaimana kita mempergunakan titipan Tuhan itu dengan sebaik-baiknya. Bagaimana kita memanfaatkan rezeki yang diperoleh agar diberkahi-Nya. Bagaimana kita menjadikan rezeki yang sudah ditipkan kepada kita juga bermanfaat untuk orang lain, saling berbagi. Tuhan itu Maha adil, tuhan tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga cobaan. Semua itu bertujuan agar kita bisa menghargai proses berjalannya hidup, belajar dari alam, dan menghargai semua yang Tuhan titipkan. Terkadang dalam hidup ini tidak jarang Sang Khalik menciptakan kesenjangan antara kenyataan dengan harapan atau yang sering disebut masalah. Masalah diciptakan-Nya agar manusia lebih bijaksana dalam hidup, belajar bagaimana memperoleh pemahaman dari hidup, belajar memaafkan dan berbesar hati.



Lantas apalagi yang kita keluhkan di media sosial? Apakah dengan mengeluhkan semua masalah di sosial media, maka masalah itu akan selesai? Justru sebaliknya, masalah itu akan diketahui semua orang yang bahkan kita tidak kenal. Mengumbar aib di sosial media malah akan mempermalukan diri kita sendiri.  Jika masalah kecil saja kita umbar-umbar di jejaring sosial, bagaimana masalah besar nanti? Mengumbar hal yang kecil di sosial media menunjukkan kualitas kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Semua itu tidak hanya memberi pengaruh untuk diri sendiri, tetapi juga lingkungan. Coba bayangkan, jika suatu saat kita akan melamar pekerjaan. Pimpinan kita akan selalu melihat apa yang kita tulis di account pribadi kita. Jangan salahkan jika kualitas kita terlihat di sana dan akhirnya pekerjaan itu tidak kita dapatkan, tidak tercapai. Maka, Sebaik-baik mengadu hanyalah kepada-Nya. Sang Pencipta pasti tahu  penyelesaian semua masalah yang kita hadapi, dan kalau pun harus menggunakan sosial media maka pergunakanlah dengan bijak.

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM BERMEDIA
  1. Pastikan informasi itu benar.
  2. Bermanfaat untuk umum.
  3. Jangan terpancing emosi.
  4. Niat baik belum tentu efeknya baik.
  5. Aib bukan untuk disebar.

Bangun Pagi


Ilustrasi
Memulai pagi dengan semangat pagi itu harus. Tapi bagaimana jika bangun pagi itu terkendala dan terhambat oleh rasa malas yang sangat luar biasa? Malas beranjak dari tempat tidur, bagi umat Islam malas untuk segera shalat Subuh, dan maunya hanya bermalas-malasan di tempat tidur. Menunda-nunda waktu shalat, dan sampai tidak menyadari waktu shalat akan habis. Perbuatan bermalas-malasan seperti itu sangat disenangi oleh setan.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Setan akan membuat 3 simpul tali pada tengkuk salah seorang diantara kalian saat sedang tidur dimana setiap simpul tali akan membuat ia tidur dalam waktu yang lama. Karena itu, tidurlah. Apabila ia terbangun lalu berdzikir kepada Allah, 1 simpul akan terlepas. Apabila ia berwudhu, 1 simpul lagi akan terlepas. Dan apabila ia mengerjakan shalat, simpul terakhir akan terlepas, sehingga ia akan semangat dan berada dalam kondisi jiwa yang baik. Jika tidak, jiwanya akan menjadi buruk dan bermalas-malasan."

Tak hanya sabda Rasulullah SAW, penelitian juga membuktikan bahwa orang yang bangun pagi akan lebih semangat dan lebih sukses. Lihat saja orang luar negri. Mereka memulai rutinitas di pagi hari bukan? Saat kita masih menganggap belum waktunya bangun dan bekerja, lihatlah mereka sudah sibuk dengan pekerjaannya. Orang yang bangun pagi terlihat lebih semangat dan ceria. Udara yang kita hirup di pagi hari menjadi penyemangat tersendiri untuk organ tubuh. Tubuh yang telah istirahat pada malam hari menjadi segar dan fit kembali. Memang tidak mudah untuk menahan godaan dari selimut tebal, kasur empuk ditambah lagi udara yang dingin. Tetapi jika dibiasakan untuk tidak tidur setelah shalat Subuh, lama-lama akan terbiasa.

Orang yang bangun lebih pagi memiliki mood yang bagus untuk bekerja. Bangun pagi membuat seseorang lebih produktif dan aktif. Hal ini karena orang yang bangun lebih pagi memiliki waktu untuk menyiapkan pekerjaan, sementara orang lain masih tertidur. Dalam keheningan di pagi hari, orang yang bangun pagi memiliki konsentrasi dan fokus yang baik dalam menghadapi pekerjaan. Jadi, siapa bilang bangun pagi itu susah? Memang sulit, apabila tidak dibiasakan. Tidak akan sulit jika bangun pagi membuat kita mendapatkan semangat yang luar biasa.

Sejarah Olahraga Bola Voli

Siapa yang tidak mengetahui dengan cabang olahraga  bola Voli pada zaman sekarang ini, semua orang sudah mengenal nya jangankan di Indonesia bahkan di negara-negara besar lainnya sudah sangat populer seperti cabang olahraga lainnya, terutama pada cabang olahraga sepak bola. Bola Voli adalah jenis olahraga beregu atau tim, satu tim terdiri dari 6 orang pemain utama dan beberapa pemain pengganti (cadangan), bicara soal bola Voli alangkah baiknya kita mengetahui sejarah bola Voli terlebih dahulu, sebab tak ada usul kalau tak ada asal.hehe...!!!  dan harapan saya jangan pernah lupakan sejarah, terutama pada sejarah bangsa ini. Baik, saya tidak akan bicara panjang lebar, berikut ini adalah sejarah cabang olahraga bola Voli:

William G. Morgan ( volleyball.com )

Bola voli di temukan oleh seorang berkebangsaan Amerika Serikat yang bernama William G. Morgan pada tanggal 9 Februari tahun 1895, di Holyoke, Massachusetts, Amerika Serikat. William G. Morgan adalah seorang instruktur pendidikan jasmani (Director of phsycal Education) yang merupakan lulusan dari Springfield College of YMCA, pada saat itu olahraga bola Voli diberi nama Mintonette.

Permainan Mintonette sebenarnya tercipta dari beberapa kombinasi permainan olahraga lain nya, yaitu:  bola Basket, Tenis, Handball dan Baseball. Pada awalnya permainan Mintonette (bola Voli) di buat khusus untuk anggota YMCA yang berusia sudah tidak muda lagi, oleh karena itu permainan Mintonette (bola Voli) tidak dibuat seaktif permainan bola Basket. Terjadi nya perubahan nama Mintonette menjadi Volleyball (bola Voli) yaitu saat pertandingan internasional pertama YMCA training school pada tahun 1896, pada awal tahun tersebut seorang Director of Professional phsycal Education Training School yang bernama Dr. Luther Halsey Gulick mengundang serta meminta William G. Morgan untuk mendemontrasikan permainan yang telah ia ciptakan di sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, sehingga terciptalah olahraga bernama Volleyball (bola Voli).

Oke teman, itu saja sejarah singkat olahraga bola Voli yang dapat saya sampaikan salah dan janggal saya mohon maaf, semoga bermanfaat.!!!

Menikmati Eksotiknya Pantai Tiang Bendera Sambil Mengenang Sejarah



“Masyaallah, Subhanallah,” lantunan kalimat pujian kepada sang pencipta tak sadar spontan kami gumamkan saat memasuki pantai eksotis ini. Bagaimana tidak, siapapun yang melihat pesona pantai yang satu ini pasti berekspresi sama dengan kami. Tak hentinya mengagumi pesona lukisan Tuhan yang satu ini. Ya, tulisan kali ini saya akan membahas tentang keeksotisan Pulau Rote yang mungkin tak banyak diketahui, karena pantai ini memang masih sangat alami, jauh dari tangan nakal manusia yang ingin mencemari pantai ini.

Adalah pantai tiang bendera, sekitar 5 km dari pusat kota Baa yang terletak di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Air lautnya yang bening kebiru-biruan menggambarkan bahwa pantai ini masih belum tercemari oleh limbah apapun. Batu karang yang banyak dijumpai di pantai ini seolah mengatakan banyak biota laut yang masih “bebas” hidup di sini tanpa cemasnya mereka oleh tangan-tangan jahil manusia. Deburan ombak yang tenang, membuat siapapun, termasuk saya betah berlama-lama di pantai eksotik ini. Pantai ini memiliki karang yang tinggi yang menjorok ke tengah laut, membuat siapapun ‘lupa diri’ karena asik berswafoto. Sambil bersantai di atas karang, diri ini dimanjakan oleh sepoian angin yang menyapa dan ditambah dengan berfantasi percikan air deburan ombak pantai ini. Jika kalian ingin mengunjungi pantai ini, sebaiknya beramai-ramai, karena keindahan ciptaan Tuhan akan sangat asik kita nikmati dengan teman-teman terdekat kita.

Dibalik nama Pantai Tiang Bendera ada peristiwa sejarah yang tidak boleh kita lupakan. Pemberian nama Pantai Tiang Bendera dilatarbelakangi oleh peristiwa heroik perjuangan rakyat Rote melawan penjajah Belanda. Di atas bebatuan Karang yang berada di tengah laut, terdapat sebuah tugu beton yang sengaja dibangun Belanda sebagai penanda wilayah jajahannya. Jika air sedang surut, pengunjung bias menaiki karang untuk mencapai tugu tiang bendera yang didirikan oleh Belanda tersebut, namun harus berhati-hati karena karang yang sangat tajam. Saya mendapatkan informasi ini dari sopir mikrolet yang kami sewa, hehehe.

Pantai tiang bendera juga salah satu tempat terbaik untuk menikmati sunset. Di pesisir pantai juga banyak tersedia lopo (pondok) untuk sekedar duduk ataupun menikmati bekal yang sudah disiapkan. Disarankan yang ingin mengunjungi pantai ini untuk membawa bekal karena di sini tidak ada yang berjualan. Untuk menuju Pantai Tiang bendera membutuhkan jarak tempuh 5 km saja dari pusat kota (Baa). Untuk wisatawan yang ingin mengunjungi pantai ini bisa menyewa ojek atau mikrolet yang tersedia di kota Baa.


Saya sangat bersyukur bisa menikmati sisi lain keindahan alam-alam NTT. Menurut saya, NTT adalah surganya wisata. Untuk menuju Rote, saya dan teman-teman berangkat dari Kupang menuju Pelabuhan Bolok. Dengan biaya Rp 65.000 per orang kami menyeberang dengan menggunakan jasa kapal feri pada pukul 08.00 WITA.  Memakan waktu penyeberangan kurang lebih 3 jam kami tiba di Pelabuhan Pantai Baru pukul 11.00 WITA. Dari Pelabuhan Pantai Baru, menuju pusat kota Baa meembutuhkan waktu 45 menit. Kami memutuskan untuk menyewa mobil pick up yang tersedia di sekitar pelabuhan. Selain pick up, di sekitar pelabuhan juga banyak mikrolet dan ojek yang menuju kota Baa. Jadi, pengunjung Pulau Rote tidak usah khawatir dengan transportasi menuju Baa.  Dengan biaya Rp 20.000 per orang kami menuju kota Baa. Selain menggunakan kapal feri, untuk menuju Pulau Rote juga bisa juga menggunakan jasa penerbangan yang tentunya biaya yang lebih mahal daripada menggunakan kapal feri, hehehe. Jadi, siapa yang tak tertarik berwisata sambil mengenang sejarah. 😊

'Badai' Tidak Boleh Berlalu

Siang itu, pada saat jam kuliah sedang berlangsung, setelah menerangkan mata kuliah, sang dosen bertanya kepada mahasiswa, “ Jadi apa perbedaan antara mata kuliah yang sudah anda pelajari semester lalu dengan mata kuliah ini?” tanya beliau. Kebetulan pelajaran yang ditanyakan beliau sudah dipelajari dua semester yang lewat. Mata kuliah yang diajarkan beliau semester ini adalah mata kuliah yang berhubungan dengan semester yang lalu. Sesaat setelah dosen bertanya, kelas hening seketika. Tidak ada satupun mahasiswa yang bisa menjawab pertanyaan sang dosen, termasuk saya. Pertanyaan yang diajukan beliau hendaknya bisa terjawab. Namun, ternyata jauh dari perkiraan dan harapan beliau. 

Beberapa saat lamanya, beliau menunggu jawaban, tetapi tidak ada satupun mahasiswa yang bisa menjawabnya. Hingga beliau mengeluarkan kata sentilan yang mampu membuat saya dan teman-teman mahasiswa lainnya tersentak dari keterlenaan menikmati penyesalan yang datang terlambat. Sang dosen mengatakan, “Kita kuliah jangan gunakan prinsip badai pasti berlalu” ujar beliau. Artinya, selesai semester lama, sambut semester baru, buku-buku referensi disimpan begitu saja di dalam kardus. Ilmu yang didapatkan di semester sebelumnya dilupakan begitu saja seakan tidak butuh lagi.

Pada hakikatnya, ilmu yang kita serap dan kita dapatkan tidak ada yang sia-sia serta tidak boleh kita lupakan begitu saja. Seharusnya kita mengulang-ulang kaji lama, agar kita mantap mendapatkan kaji yang baru, karena dasar-dasar ilmunya sudah duduk di otak kita. Merugilah kita apabila sudah mempelajari suatu ilmu, tetapi kita tidak pernah menyimpannya di dalam otak maupun memanfaatkannya, atau tidak menelaah dan mengulang yang telah kita pelajari lebih lanjut. Maka dari itu, sebagai mahasiswa, mari kita hapuskan prinsip badai pasti berlalu. Badai tidak boleh berlalu, pelajaran di masa lalu hendaknya menjadi pegangan kita di masa depan. 

Jangan Salahkan Anak bila Dewasa Belum pada Waktunya


Tak acuh, tak peduli, cuek, dan hanya sibuk dengan urusan sendiri. Itulah gambaran kehidupan kita sekarang. Banyak hal yang menjadikan kita tak lagi peka terhadap lingkungan. Dengan ketidakpekaan itu, banyak hal negatif yang terjadi di lingkungan sekitar, teman bahkan keluarga kita. 

Penyebab hal negatif yang terjadi pada masa sekarang bukan hanya akibat dari globalisasi dan westernisasi, tetapi lebih kepada perhatian dan pengawasan. Anak-anak dan remaja yang menjadi korban dari semua ini dibiarkan saja oleh para orangtua dan orang dewasa. Orangtua yang bekerja hingga larut malam, sehingga ketika di rumah bertemu dengan anak hanyalah pada waktu anak sudah tidur. Tidak sempat bertanya “nak, bagaimana pelajaran hari ini?” atau pertanyaan lebih sederhana “nak, apakah sudah makan?’ Ini realita yang tidak dapat dipungkiri. Banyak orangtua yang sekarang hanya fokus mencari materi dan mengabaikan perkembangan anak mereka. 

Para orangtua sekarang ‘mencekoki’ anak dengan berbagai kesenangan. Jangan heran, jika anak-anak SD sekarang di tangan mereka sudah tergenggam tablet, Ipad, PSP yang mudah dibawa-bawa. Bermain games hingga lupa waktu. Bahkan anak-anak sekarang sudah bisa BBM-an. Maka, jangan salahkan jika permainan-permainan tradisional yang kita mainkan dulu sudah hilang di zaman sekarang. Main kelereng, petak umpet, cabur dan permainan masa kecil era 90-an lainnya. 

Padahal, permainan-permainan tradisional itu juga menuntut anak untuk berkreatifitas dan berpikir. Bukan hanya pada permainan PS kreatifitas anak tercipta. Juga, jangan salahkan jika anak sekarang lebih suka internetan daripada membaca buku. Prestasi menurun karena hanya mengakses jejaring sosial. Bukankah, kita sebagai orangtua yang membuat anak ‘dewasa’ belum pada waktunya? Orangtua lah yang memfasilitasi semua itu. Zaman boleh berubah, tetapi pengawasan dan perhatian jangan sampai punah.